Sunday , January 11 2026

Sambung Menyambung Menjadi Satu Itulah Interkoneksi

PLTA Cirata (foto : istimewa)

Beredar di media sosial dan beberapa group whatssapp video paparan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) sedang menyampaikan sambutan dan berbicara tentang pengelolaan listrik. Diantaranya KDM menyampaikan bahwa kesalahan fatal kita masalah energi adalah sentralisasi PLN yang dilakukan di era ini berdampak biaya listrik mahal. Kenapa ? Karena negara mengelola listrik melakukan hal yang aneh-aneh, kata KDM.
Bendungan Cirata (di situ ada PLTA Cirata) listriknya dikirim ke Bali. Berapa tiang listrik SUTET, meliputi berapa ribu hektar dan meliputi berapa ratus dan berapa ribu kilo meter?

Yang di bawah Cirata dapat listrik dari mana ? Dikirim dari Banten dengan tenaga listrik batubara.

KDM juga bercerita tentang mikro hidro yang banyak potensinya di berbagai daerah sebagai modal kemandirian energi daerah.

Pernyataan KDM sontak memicu diskusi ramai di media sosial dan juga di group whatssapp. Apa yang disampaikan KDM tidak sepenuhnya benar dan bisa menimbulkan misleading tingkat tinggi.

Entah KDM menyampaikan hal itu secara sadar bahwa itu tidak benar atau memang beliau mendapat masukan yang kurang proporsional dari timnya.

Best practice operasi kelistrikan adalah interkoneksi (grid), yaitu sistem kelistrikan yang menghubungkan antara beberapa pembangkit listrik dan gardu induk dengan menggunakan jaringan transmisi. Jadi prinsipnya seperti lagu Dari Sabang sampai Merauke. Sambung menyambung menjadi satu. Itulah interkoneksi.

Sistem interkoneksi memungkinkan aliran daya listrik antar wilayah untuk meningkatkan keandalan, menstabilkan frekwensi dan berbagi beban sehingga jika terjadi gangguan di suatu area tidak memicu pemadaman total.

Sistem ini menggantikan sistem isolated yang terpisah dan berdiri sendiri.
Pada sistem interkoneksi permintaan listrik dapat dilayani dari seluruh pembangkit dan gardu induk yang telah terhubung.

Contoh, interkoneksi sistem kelistrikan Jawa Madura Bali. Ini adalah interkoneksi terbesar di Indonesia. Bebannya sekitar 40.000 Megawatt (MW) dan ditopang oleh pembangkit-pembangkit besar seperti PLTU Suralaya di Banten, PLTA Cirata Jawa Barat, PLTU Batang Jawa Tengah, PLTU Paiton Jawa Tomur dan lain-lain.

Di Jawa ini kita tidak tahu lagi listrik yang memasok rumah atau kantor kita bersumber dari pembangkit mana. Karena semua pembangkit besar memasok listrik ke gardu induk dan jaringan transmisi Jawa Madura Bali.

Jaringan transmisi (foto : PLN)

Apa dampaknya ? Pertama, keandalan. Bicara listrik bukan hanya soal lampu menyala, namun juga harus bermutu dan andal. Mutu terkait kualitas tegangan dan andal terkait jarang terjadi gangguan.

Jika listrik di rumah kita jarang atau bahkan hampir tidak pernah mati, itu bukan berarti tidak ada gangguan listrik sama sekali. Gangguan listrik ada saja. Namanya infrastruktur listrik dipasang di alam terbuka untuk mengalirkan listrik tentu rentan terekspose alam dan cuaca. Trafo, kabel transmisi ada saja yang mengalami gangguan.

Namun karena sistem kelistrikan sudah terhubung maka jika terjadi gangguan di suatu wilayah pasokan listrik bisa diambil alih dari wilayah lainnya. Istilah orang PLN adalah manuver beban. Ini dimungkinkan dalam sistem kelistrikan yang sudah terinterkoneksi dan tidak dimungkinkan di sistem isolated.
Jadi sistem interkoneksi dibangun untuk memastikan jika satu daerah mengalami gangguan, daerah lain bisa menopang.

Tanpa sistem interkoneksi, kemandirian energi di suatu daerah yang hanya mengandalkan satu pembangkit lokal akan sangat rentan jika terjadi kerusakan alat atau debit air andalan mikrohodro menipis.

Kedua efisiensi. KDM benar, bahwa interkoneksi memang membutuhkan biaya untuk membangun infrastruktur tower transmisi yang panjang. Namun interkoneksi akan mendapatkan efisiensi luar biasa.

Bahan bakar pembangkit listrik ada bermacam-macam. Ada yang murah, relatif murah dan ada yang lebih mahal.

Mengoperasikan pembangkit listrik mirip-mirip dengan mengoperasikan bus. Analogi sederhana ini terasa pas. Perusahaan otobus akan memilih mengeluarkan armadanya yang lebih irit bahan bakar supaya lebih efisien. Ketika permintaan bus meningkat pemilik akan mengeluarkan armada yang kurang efisien bahan bakar. Dan ketika permintaan bus memasuki puncak seperti saat liburan maka semua bus, baik yang irit maupun yang kurang irit akan dikeluarkan dari garasi untuk memenuhi permintaan.

Begitu pula dalam operasi kelistrikan interkoneksi. Pembangkit akan dioperasi sesuai langgam permintaan pelanggan. Rencana operasi pembangkit disesuaikan berdasarkan prediksi beban atau permintaan.

Ketika permintaan rendah, operator (PLN) akan memaksimalkan pembangkit berbahan bakar murah. Dengan demikian akan diperoleh efisiensi maksimal dalam operasi kelistrikan. Disamping itu juga bisa diatur untuk mencapai optimalisasi penggunaan energi baru terbarukan untuk mendukung transisi energi menuju net zero emission.

Karena itu kalau operasi kelistrikan interkoneksi dibilang aneh-aneh dan memicu biaya listrik mahal sangat tidak pas dan bisa menimbulkan salah paham. Justru sebaliknya, interkoneksi memicu efisiensi dan meningkatkan keandalan, sebagaimana penjelasan di atas.

Sebagai best practice, sistem interkoneksi banyak diterapkan di berbagai negara. Bahkan juga antar negara. Di Eropa, beberapa negara telah tersambung atau interkoneksi melalui jaringan transmisi listrik. Sehingga bisa saling suplai antar negara.

Juga di negara-negara ASEAN, sedang digagas ASEAN power grid yang memungkinkan negara anggota ASEAN menjadi satu sistem terintegrasi, bisa saling suplai lintas batas, meningkatkan ketahanan energiengoptimalkan pemanfaatan EBT untukemenuhi permintaan listrik yang terus meningkat. Tintisan proyek yang sudah berjalan adalah interkoneksi Laos – Thailand – Malaysia dan Singapura.

Memang interkoneksi antar negara bisa memunculkan tantangan dari sisi pertahanan dan keamanan negara. Namun demi memperoleh keandalan, kestabilan dan efisiensi energi tantangan tersebut bisa dimitigasi.

Terkait kemandirian energi desa atau daerah-daerah yang memiliki potensi energi hidro dan lainnya, tentu akan sangat bagus untuk dikembangkan. Namun dari sisi keandalan dan kestabilan energi, pembangkit lokal tersebut sebaiknya tetap terhubung ke sistem nasional. Tujuannya, saat desa kelebihan daya, mereka bisa menjualnya ke PLN, dan saat pembangkit desa bermasalah, suplai dari grid bisa menjamin lampu warga tidak padam.

Tanpa sistem interkoneksi, kemandirian energi desa yang hanya mengandalkan mikrohidro lokal akan sangat rentan jika debit air sungai mengecil atau terjadi kerusakan alat.(Bambang Dwiyanto (freelancer, alumni PLN)

Cek juga

Warga Mulai Tempati Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang, Kesiapan Listrik dan Personel Siaga PLN Diapresiasi

ACEH TAMIANG — Seiring warga terdampak bencana mulai menempati rumah Hunian Danantara (Huntara) di Aceh …