Thursday , January 22 2026

Kolaborasi ITPLN-ITS dan PLN Puslitbang Bangun Awareness Nuklir

SURABAYA — Institut Teknologi PLN (ITPLN) bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan PT PLN (Persero) Pusat Penelitian dan Pengembangan (PLN Puslitbang) memperkuat sosialisasi rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) melalui kegiatan Capacity Building Awareness Nuklir 2026 seri ke 2 pada Kamis, 22 Januari 2026.

Acara yang berlangsung di Auditorium ITS Tower 2, Surabaya, itu mengusung tema “Menyambut PLTN Pertama Indonesia sebagai Solusi Net Zero Emission sesuai RUPTL 2025–2034”. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman publik dan kesiapan sumber daya manusia menghadapi pengembangan energi nuklir nasional.

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Usaha ITPLN, Dr. Ir. M. Ahsin Sidqi, M.M., IPU., ASEAN Eng., QRGP, mengatakan teknologi nuklir saat ini semakin adaptif terhadap kebutuhan energi, termasuk untuk skala industri.

“Dalam seminar internasional di Jakarta, mitra dari Italia menawarkan small modular reactor yang fleksibel, dari 1 sampai 5 megawatt. Bahkan ada yang bisa beroperasi 10 hingga 20 tahun tanpa refueling. Ini bisa dipakai langsung oleh industri, konsepnya seperti modular dibawa pakai truk,” ujar Ahsin kepada wartawan, Kamis, 22 Januari 2026.

Menurut Ahsin, pengembangan PLTN sejalan dengan agenda besar kemandirian energi nasional dan nationality pride yang kini didorong visi pemerintah. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto dan jajaran kabinet sudah vokal menyuarakan energi nuklir dalam berbagai forum internasional.

“Sekarang perguruan tinggi, PLN, dan asosiasi sedang bergerak bersama untuk membangun kesadaran publik. Ini momentum Indonesia mandiri energi,” kata dia.

Ahsin juga menegaskan Indonesia memiliki modal sumber daya alam dan sumber daya manusia. Cadangan uranium terdapat di Kalimantan Barat, sementara thorium ditemukan di Bangka Belitung dari sisa tambang monasit.

“Bahan bakarnya relatif sedikit vokumenya dengan besarnya daya listrik yang dibangkitkan dan seluruhnya diawali ketabahan oleh IAEA. Kalau Indonesia masuk nuklir, kita harus menjadi bagian penting negara maju dunia,” tegasnya.

Dari sisi SDM, Ahsin menyebut diaspora insinyur nuklir Indonesia cukup banyak dan tersebar di berbagai negara. Selain itu, ribuan lulusan nuklir dari UGM dan ITB dinilai siap dilibatkan jika keputusan pembangunan PLTN telah ditetapkan.

“Masalah kapasitas dan kapabilitas manusia tidak diragukan. Sekarang tinggal menunggu keputusan pemerintah,” katanya.

Sementara itu, General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh mengatakan sosialisasi Awareness Nuklir ini akan dilakukan berkeliling ke kampus-kampus strategis di Indonesia, termasuk Jawa Timur yang dinilai memiliki kekuatan budaya teknologi dan akademik yang kuat.

“Ini bagian dari capacity building dan awareness. Kompetensi operator PLTN di Indonesia masih terbatas, sehingga perlu fast track penyiapan SDM,” kata Soleh.

Ia menyebut satu unit PLTN membutuhkan sekitar 200 tenaga inti, di luar tenaga pendukung. Dalam rencana awal, PLTN pertama ditargetkan berkapasitas total 500 megawatt di dua lokasi, yakni Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.

Dukungan juga datang dari ITS. Wakil Rektor IV ITS Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian Prof. Agus Muhamad Hatta menilai pembangunan PLTN menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi perguruan tinggi.

“PLTN itu multidisiplin. Tidak hanya teknik nuklir, tapi juga elektro, mesin, fisika, keselamatan, hingga otomasi. ITS siap terlibat dalam penyiapan SDM dan risetnya,” kata Agus.

Ia membuka peluang ITS dan kampus lain di Indonesia mengembangkan program studi yang lebih spesifik terkait pembangkit nuklir di masa depan.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan regulator, termasuk perwakilan BAPETEN. Seperti Prof. Dr. Eng. Rony Seto Wibowo, S.T., M.T., IPU dari ITS, Ir. Heru Sriwidodo, M.M., IPU selaku konsultan dan trainer, Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir BAPETEN Haendra Subekti, S.T., M.T., serta Dosen dan Peneliti Teknik Nuklir Prof. Dr. Ir. Anhar Riza Antariksa, S.T., DEA, IPU.

Sosialisasi serupa direncanakan berlanjut ke berbagai daerah, termasuk komunitas masyarakat dan pesantren, guna memperluas diskursus publik terkait energi nuklir di Indonesia.

Cek juga

Pembangkit Listrik Hijau PLTA Sipansihaporas Berperan Cegah Banjir Kayu saat Bencana Sumatra

TAPANULI TENGAH – Hujan turun sejak beberapa hari dan tak menunjukkan tanda akan reda. Pagi …