Tuesday , January 27 2026

Pramono Anung Ogah Pakai Buzzer Dalam Komunikasi Publik

Pramono Anung Ogah Pakai Buzzer Dalam Komunikasi Publik

JAKARTA. Komunikasi bukan hanya sebagai publikasi semata melainkan sebagai ruang dialog yang intensif. Pemerintah DKI Jakarta misalnya telah menjalankan ruang dialog bagi publik dengan menerapkan komunikasi yang efektif agar masyarakat bisa melihat cara kerja Pemda tanpa bantuan buzzer.

Pramono Anung Gubernur DKI Jakarta, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina IKA Fikom Unpad, mengatakan seharusnya komunikasi bisa menjadi ruang dialog yang terbuka dan dua arah.

“Terutama bagi pejabat, komunikasi itu jangan dianggap sebagai publikasi saja, komunikasi itu harus menjadi ruang dialog yang terbuka dengan orang dalam,” ujarnya, dalam pembukaan diskusi Executive Breakfast Meeting dengan judul “Riah Riuh Komunikasi” di Tribrata Hall, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2025).

Dia mengatakan bahwa dalam komunikasi terutama bidang birokrat, apa yang ingin disampaikan harus transparan kepada publik. Hal itu ia lakukan saat ini selama memimpin Jakarta.

“Komunikasi itu kan pilihan, memiliki ruang depan dan belakang, buat saya antara ruang depan dan belakang itu harus sama dan itu yang saya lakukan saat memimpin Jakarta saat ini,” katanya.

Untuk itulah, Pramono mengatakan bahwa dirinya menolak untuk memakai buzzer atau penambahan follower medsos dalam melakukan komunikasi di sosial media.”Ada yang menyarankan, saya menolak. Biarkan saya seperti ini saja,” kata dia.

Bahkan, dengan komunikasi yang natural kata Pramono, dirinya bisa meraih 50,07%, dari awalnya ketika di survei hanya 0,1%.

“Ya saya juga tidak anti kritik, saat banjir saja saya malah urus The Jak, ini pasti ada kritik. Tidak apa, tetapi saya juga terus bekerja mengeruk kali,” terang dia.

Analis komunikasi politik yang juga menjabat sebagai Ketua Umum IKA Fikom Unpad Hendri Satrio menjelaskan bahwa buku Riah Riuh Komunikasi ditulis sejak Prabowo Subianto menjabat sebagai presiden.

“Semua dalam buku ini membahas sudut pandang saya melihat beberapa hal di Indonesia dari sisi komunikasi, dan pada akhirnya sepakat kita bahas di sini untuk mengawali EBM IKA Fikom Unpad di tahun 2026,” kata Hensa.

Rocky Gerung Analis Politik yang juga hadir sebagai pembicara pada acara ini memberikan pandangan lain soal komunikasi.

Menurutnya, komunikasi harusnya menjadi cara untuk berargumen dan menyamakan pendapat, terutama dalam bernegara.

“Komunikasi kan artinya mengaktifkan reason untuk memperoleh kesamaan argumentasi,” kata Rocky.

Sementara itu, Tenaga Ahli Kemenhan Sabrang Mowo Damar Panuluh berpendapat bahwa komunikasi itu tidak hanya sekedar reaktif namun juga memiliki fakta yang akan disampaikan di dalamnya.

Di samping itu, ia juga mewajarkan jika komunikasi bukan alat yang dapat memuaskan semua pihak.

“Komunikasi memang bukan alat untuk memuaskan semua pihak, mungkin saja itu salah satu utilitinya, tapi utilitas utamanya kan menyampaikan informasi satu sama sama lain,” kata Sabrang.

Penulis Maman Suherman berpendapat, komunikasi seharusnya menjadi alat bagi satu pihak untuk mendengar lebih dalam ke pihak-pihak yang selama ini tidak terdengar suaranya.

Ia mencontohkan selama ini pejabat publik kerap kali di cap tidak akan menyelesaikan masalah jika tidak viral.

Menurutnya, pejabat pun juga bisa memanfaatkan komunikasi untuk mendengar lebih dalam keluhan masyarakat.

“Komunikasi harus mulai mendengar yang tidak viral, karena kalau hanya ikut yang viral akan selamanya kita hanya mengikuti tren-tren di media sosial,” kata Maman.

Cek juga

PHR Konfirmasi Penemuan Cadangan Hidrokarbon di Sumur Mustang Hitam-001 di Rokan

PEKANBARU — PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengonfirmasi Sumur Mustang Hitam (MTH)-001 yang berlokasi di …