Sunday , March 3 2024

Pengamat Energi Ali Ahmudi : Kenaikan Pajak Kendaraan Bermotor Tidak Berdampak Pada Harga BBM

JAKARTA – Direktur Eksekutif CESS (Center for Energy Security Studies) , Ali Ahmudi Achyak menyatakan terkait adanya wacana kenaikan PBBKB (Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor) sebesar 5% menjadi 10% masyarakat tak perlu khawatir dampaknya terhadap harga bahan bakar minyak (BBM), karena kenaikannya tak terlalu signifikan dalam hitungan ekonomis. Justru dampak luasnya pada psikologis dan politis, jika isu kenaikan itu tak dikelola dengan baik dan dikomunikasikan kepada masyarakat.

“Kenaiknya tidak terlalu tajam. Itu kan kenaikan pajak hanya 5% menjadi 10%, itu pun perhitungannya sebelum PPN. Artinya dari harga produksi pokok sebelum kena pajak, sehingga sebenarnya naiknya tidak akan terlalu tinggi, paling tidak sampai Rp 1.000 per liter,” kata Ali Ahmudi kepada fokusenergi.com, Senin (29/1/2024).

Ali mengasumsikan bahwa jika berdasarkan data per 28 Januari 2024 ini, harga BBM nonsubsidi di DKI Jakarta jenis Pertamax harganya Rp 12.950 per liter. Setelah dilakukan penyesuaian, harganya diprediksi akan naik Rp 647 atau menjadi Rp 13.597 per liter.

Lebih lanjut Ali menjelaskan, dampak secara ekonomis tidak besar kalau harga Pertamax itu kemudian naik 5% dari harga yang ada sekarang, nggak akan lebih besar dari Rp 1.000 naiknya. Itu bagi masyarakat perkotaan yang punya mobil itu seharusnya tidak berat-berat banget.

“Kenaikan PBBKB ini akan lebih besar mempengaruhi pengguna BBM secara psikologis. Dia berujar, banyak pengguna ketika mendengar kabar kenaikan, langsung merasa was-was. Padahal, kata dia, nilai kenaikannya sebenarnya tidak seberapa,” jelasnya

Dampak signifikannya di psikologis. Ketika mendengar ada isu kenaikan PBBKB yang berpotensi terjadinya kenaikan harga BBM. Sudah seringkali ketika ada isu kenaikan harga BBM yang bahkan belum terjadi, antrean SPBU sudah mengular. Itu kan masalah psikologis.

Untuk itu ia menyarankan agar pemerintah menyampaikan secara gamblang harga BBM yang naik, jangan hanya menyuguhkan hitungan mentah berupa persentase. Selain itu, saya juga meminta agar pemerintah memberikan alasan kenaikan harga secara jelas kepada masyarakat.

“Saya yakin masyarakat juga akan memaklumi, (kenaikan pajak dan harga BBM) ini dalam rangka menekan konsumsi, dalam rangka menjaga lingkungan atau membuat masyarakat mau beralih ke transportasi umum,” pungkas Ali

Cek juga

Revisi Aturan PLTS Atap berpotensi Genjot Pertumbuhan EBT Tanpa Membebani APBN

JAKARTA—Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI) Salamudin Daeng menilai persetujuan Pemerintah atas revisi PLTS …