Friday , February 6 2026

Sofyano Zakaria : Danantara Harus Jadi Alat Negara Mengembalikan Saham BUMN ke Pangkuan Bangsa

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengungkapkan pemikirannya bahwa Kehadiran Danantara harus dimaknai sebagai langkah serius negara untuk memperkuat kembali kedaulatan ekonomi nasional. Danantara bukan sekadar lembaga pengelola investasi, tetapi bisa dan seharusnya menjadi instrumen strategis negara dalam membina, memperkuat, dan bahkan mengembalikan kepemilikan saham asing di sejumlah BUMN agar kembali sepenuhnya berada di tangan bangsa sendiri.

Ketika kita berbicara tentang BUMN energi seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan PT Elnusa Tbk Perusahaan-perusahaan ini bergerak di sektor strategis: panas bumi, gas bumi, hingga jasa penunjang migas , perusahaan Ini bukan perusahaan yang bergerak di sektor biasa. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan ketahanan energi nasional.

Namun realitasnya masyarakat sudah lama paham bahwa sebagian saham perusahaan-perusahaan tersebut sudah dilepas ke publik, termasuk investor asing. Secara hukum hal itu memang sah, karena sudah melalui mekanisme pasar modal. 

Tetapi secara nasionalisme ekonomi, kita patut bertanya: apakah sektor strategis ini layak dikuasai pihak luar?

Di sinilah peran Danantara menjadi penting.

Danantara, sebagai entitas pengelola investasi negara, memiliki potensi dan kewenangan untuk melakukan konsolidasi aset-aset strategis nasional. Artinya, Danantara bisa menjadi “pembeli strategis” atas saham-saham BUMN yang saat ini dimiliki pihak asing atau investor luar. Tentu bukan dengan cara merampas, melainkan melalui mekanisme pasar yang sah: buyback, akuisisi bertahap, atau pengalihan kepemilikan melalui skema investasi yang terukur.

Pertanyaannya: apakah Danantara mampu?

Secara kemampuan finansial, Danantara didesain untuk mengelola dana besar yang bersumber dari aset negara dan pengelolaan investasi jangka panjang. Jika dikelola secara profesional, transparan, dan bebas dari kepentingan politik jangka pendek, Danantara memiliki daya ungkit (leverage) yang cukup untuk masuk sebagai investor utama di BUMN-BUMN strategis.

Yang dibutuhkan bukan hanya uang, tetapi strategi.

Pertama, Danantara harus memiliki peta jalan yang jelas: BUMN mana saja yang masuk kategori sangat strategis dan perlu penguatan kepemilikan nasional. 

Tidak semua BUMN harus 100 persen tertutup dari investor publik. 

Tetapi untuk sektor energi dan sumber daya alam, penguatan kepemilikan negara adalah bentuk perlindungan jangka panjang.

Kedua, kemampuan negosiasi dan manajemen risiko. Mengembalikan saham asing bukan berarti menutup diri dari kerja sama internasional. 

Yang dikembalikan adalah kontrol mayoritas dan kendali strategis. Investor asing tetap bisa menjadi mitra, tetapi bukan penentu arah kebijakan.

Ketiga, tata kelola yang bersih. 

Ini kunci utama. Jika Danantara ingin dipercaya rakyat sebagai simbol nasionalisme ekonomi, maka pengelolaannya harus transparan dan akuntabel. Jangan sampai niat baik memperkuat BUMN justru berubah menjadi ladang kepentingan segelintir elit.

Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah, mungkin istilah saham dan akuisisi terdengar jauh. Tetapi dampaknya sangat nyata. Jika negara memegang kendali penuh atas perusahaan energi, maka kebijakan harga, distribusi, dan investasi bisa lebih berpihak kepada kepentingan rakyat. 

Negara tidak akan mudah ditekan oleh kepentingan luar dalam menentukan arah kebijakan energi.

Nasionalisme BUMN bukan berarti anti asing. Nasionalisme yang sehat adalah memastikan bahwa keputusan penting terkait sumber daya alam tetap berada di tangan bangsa sendiri. 

Kita tetap membuka kerja sama, tetapi posisi tawar kita harus lebih kuat.

Danantara harus menjadi simbol kebangkitan pengelolaan aset negara secara modern namun berjiwa kebangsaan. 

Jangan hanya menjadi lembaga pengelola dana yang berorientasi keuntungan semata. Keuntungan memang penting, tetapi kedaulatan jauh lebih penting.

Jika Danantara mampu secara bertahap meningkatkan kepemilikan nasional di BUMN energi yang strategis dan juga bumn lainnya , maka kita tidak hanya berbicara soal angka saham. Kita sedang berbicara tentang masa depan energi Indonesia, tentang keberanian negara berdiri di atas kaki sendiri.

Inilah ujian sebenarnya bagi Danantara: apakah ia hanya menjadi manajer investasi biasa, atau benar-benar menjadi alat negara untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi nasional.

Rakyat menunggu bukti kerja nyata yang tidak hanya soal keuntungan semata tetapi yang juga mampu membanggakan nasionalisme nya[•]

Cek juga

Tak Bisa Diperjualbelikan, Pemanfaatan Hutan Harus dengan PPKH

JAKARTA – Pemerintah mempertegas aturan main aktivitas ekstraktif di area hijau dengan menyatakan bahwa izin …