Proses pengolahan slag nikel menjadi batu bata (foto : Harita Nickel)
“Inovasi pemanfaatan kembali sisa pengolahan nikel yang ada di Site Obi diganjar dua kali penghargaan Anugerah Ekonomi Hijau, ini menjadi bukti bahwa Harita Nickel peduli lingkungan dan memberi manfaat untuk masyarakat sekitar“
Harita Nickel mengembangkan sebuah inovasi yang tidak hanya mengurangi sisa pengolahan nikel, tetapi juga memberikan solusi berkelanjutan untuk sektor konstruksi. Perusahaan Nikel yang beroperasi di Pulau Obi ini berhasil mengolah slag nikel, limbah sisa dari pengolahan bijih nikel, menjadi batu bata berkualitas tinggi. Inovasi ini menjadi langkah nyata menuju ekonomi hijau dan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Proses ini tidak hanya mengurangi volume limbah industri tetapi juga menciptakan produk yang bermanfaat dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Tonny Gultom, Direktur HSE (Health, Safety, Environment) Harita Nickel menuturkan proses pengolahan slag nikel menjadi batu bata berkualitas premium bahwa slag nikel dihasilkan dari proses pirometalurgi pada smelter RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace). Proses ini mengolah bijih nikel jenis saprolit untuk menghasilkan feronikel, yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan stainless steel.
“Selain feronikel, proses ini juga menghasilkan slag nikel, yaitu sisa hasil pengolahan yang berbentuk butiran pasir halus hingga kasar. Slag nikel ini diolah untuk menjadi bahan konstruksi yang bernilai tambah,” tutur Tonny

Menurut Tonny, proses pengolahan slag nikel untuk menjadi batu bata dimulai dengan pencampuran slag dengan material lain, seperti abu batubara dan sedikit semen, hingga membentuk mortar. Mortar ini kemudian dicetak menjadi bata beton kelas 1 yang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan bata beton biasa.
“Bata yang dihasilkan memiliki kekokohan yang lebih tinggi, lebih tahan lama, dan dua kali lipat lebih berat daripada bata merah atau bata ringan. Kualitasnya bahkan melebihi bata kelas 1 premium yang umumnya diproduksi dari pasir biasa,” ujar Tonny
Lebih jauh dia menjelaskan, sisa pengelolaan nikel ini merupakan inovasi dimana Harita Nickel berkomitmen pada prinsip ekonomi hijau, yaitu mengelola sisa hasil produksi (SHP) dengan cara yang benar dan memaksimalkan pemanfaatannya untuk menciptakan nilai ekonomi baru.
“Perusahaan kami tidak hanya ingin mengurangi sisa pengolahan nikel , tetapi juga menciptakan produk, seperti batu bata dari slag nikel, yang dapat digunakan untuk pembangunan berkelanjutan. Bata dari slag nikel lebih kokoh dan tidak mudah hancur, jauh lebih baik dari bata merah atau bata ringan. Selain itu, sifatnya yang lebih berat membuatnya lebih stabil dalam konstruksi bangunan,” imbuhnya
Dia menyatakan, produk batu bata yang dihasilkan terbukti berdampak positif untuk konstruksi di kawasan permukiman baru Desa Kawasi yang merupakan salah satu implementasi dari pemanfaatan slag nikel dalam pembangunan kawasan permukiman baru di Desa Kawasi. Permukiman ini diperuntukkan untuk warga Desa Kawasi Lama yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Selatan dengan difasilitasi Harita Nickel. “Pada proyek ini, slag nikel digunakan untuk konstruksi fondasi, dinding rumah, jalan, serta drainase. Dengan memanfaatkan slag nikel, bangunan menjadi lebih kokoh dan tahan gempa, serta lebih ramah lingkungan, kualitas hidup masyarakat dapat lebih meningkat dan merasakan dampak langsung dari inovasi ini”

Untuk diketahui, selain untuk konstruksi, slag nikel juga dapat dimanfaatkan untuk rehabilitasi terumbu karang dengan reef cube yang dapat membantu menciptakan ekosistem terumbu karang yang sehat. Dengan pemanfaatan slag nikel sebagai bahan konstruksi dan rehabilitasi ekosistem, Harita Nickel menunjukkan komitmennya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan menciptakan solusi ramah lingkungan di industri pertambangan.