JAKARTA – Roberto Lorato, CEO, mengatakan,“Pada tahun 2025 kami membukukan kinerja yang kuat bagi Perusahaan dan pemegang saham. Total imbal hasil pemegang saham tahunan mencapai rekor 27%, dengan pengembalian sebesar AS$ 110 juta kepada pemegang saham seiring tercapainya target produksi Minyak & Gas sebesar 156 mboepd dan target penjualan listrik sebesar 4.371 GWh.”
Ikhtisar Keuangan :
Laba bersih sebesar AS$ 101 juta dibandingkan AS$ 367 juta pada 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari Amman Mineral Internasional, penurunan nilai asset non-kas, biaya pengeboran dry hole di PSC Beluga, serta melemahnya harga komoditas.
EBITDA sebesar AS$ 1.264 juta setara dengan 2024, meskipun harga minyak rata-rata turun 15% dari AS$ 78/barel menjadi AS$ 67/barel dan harga gas melemah dari AS$ 7,0 menjadi AS$ 6,8 per mmbtu.
Belanja modal sebesar AS$ 437 juta dan biaya produksi Minyak & Gas sebesar AS$ 8,6 per boe sesuai dengan panduan.
Utang konsolidasi meningkat menjadi AS$ 3.646 juta, terutama untuk pembelian FPSO Marlin Natunauntuk memastikan keberlanjutan produksi di Lapangan Forel (South Natuna Sea Block B), serta pembiayaan proyek pengembangan pembangkit energi terbarukan dan pembangkit listrik berbasis gas.
Rasio utang bersih terhadap EBITDA1 untuk segmen Minyak & Gas, sebesar 2,0x, dibandingkan 1,8x pada 2024, dan masih berada dalam kisaran target Perusahaan.
Likuiditas tetap kuat dengan posisi kas sebesar AS$ 633 juta pada akhir tahun, dibandingkan AS$ 69 juta pada 2024.
Dividen sebesar AS$ 80 juta dibayarkan pada 2025, setara sekitar Rp53,4 per saham, meningkat 19% dibandingkan 2024.
MSCI meningkatkan peringkat ESG Perseroan menjadi “AAA” dan Moody’s meningkatkan peringkat kredit menjadi Ba3.
Ikhtisar Operasional
Minyak & Gas : Produksi tahun 2025 meningkat menjadi 156 mboepd, didorong oleh produksi perdana dari Lapangan Terubuk dan Forel di South Natuna Sea Block B, kinerja kuat berkelanjutan di Oman Block 60, serta peningkatan hak partisipasi operasi di PSC Corridor. Perseroan menutup tahun dengan mencatatkan tingkat produksi lebih dari 170 mboepd.
Belanja modal sebesar AS$ 402 juta digunakan untuk mencetak rekor produksi baru di Oman Block 60, memulai produksi di Lapangan Terubuk dan Forel, serta pengembangan sumur Corridor Suban-28 dan proyek peningkatan kapasitas kompresor Suban.
Perseroan juga memperluas portofolio di Sumatra dengan meningkatkan participating interest di Corridor menjadi 70% dan participating interest efektif di PT Transportasi Gas Indonesia menjadi 40%, serta mengakuisisi 45% participating interest operasi di PSC Sakakemang.
Pada 31 Maret 2026, Perseroan menandatangani PSC Cendramas, menandai kembalinya MedcoEnergi ke Malaysia sebagai operator blok minyak lepas pantai tersebut. PSC Cendramas berdekatan dengan operasi di South Natuna Sea Block B dan memiliki geologi dan karakteristik teknis yang serupa.
Ketenagalistrikan: Penjualan listrik mencapai 4.371 GWh, dengan 25% berasal dari energi terbarukan.
Belanja modal sebesar AS$ 35 juta terutama digunakan untuk commissioning Pembangkit Panas Bumi Ijen pada kuartal pertama, PLTS Bali Timur pada kuartal kedua, serta penyelesaian ekspansi Batam ELB pada kuartal keempat.
Amman Mineral Internasional : Perseroan mencapai panduan produksi konsentrat tahun 2025 dengan produksi sebesar 446.563 metrik ton kering yang mengandung 208,9 juta pon tembaga dan 102,8 ribu ons emas, serta pemurnian lebih lanjut sebesar 176 juta pon katoda tembaga dan 124,7 ribu ons emas.
Panduan Tahun 2026
Produksi Minyak & Gas 165-170 mboepd
Penjualan Ketenagalistrikan 4.550 GWh
Biaya Kas Produksi Minyak & Gas di bawah AS$ 10/boe
Belanja Modal Minyak & Gas AS$ 415 juta dan Ketenagalistrikan AS$ 15 juta
Hilmi Panigoro, Direktur Utama, mengatakan,“Saya sangat puas dengan kinerja tahun 2025. Memasuki 2026, kami tetap berkomitmen untuk memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan, dengan target produksi Minyak & Gas dan penjualan listrik yang kembali mencatatkan rekor baru bagi Medco.”
FOKUS ENERGI Berita Energi Terkini