Saturday , July 20 2024

PLN NP Dorong Pengembangan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan di Tengah Tantangan Perubahan Iklim

Jakarta – PLN Nusantara Power (PLN NP) mengambil sejumlah langkah antisipasi dalam menghadapi ancaman krisis iklim yang semakin nyata. Bukan sekedar menyiapkan mitigasi risiko, Subholding PLN ini bahkan menjadikan tantangan tersebut sebagai peluang untuk mendorong pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan.

Seperti diketahui Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberikan peringatan kepada dunia adanya ancaman krisis iklim yang semakin nyata. Data terbaru menunjukkan dalam 12 bulan terakhir suhu global rata-rata meningkat 1,63 derajat Celsius dibandingkan dengan rata-rata pra-industri. Peningkatan suhu ini memicu berbagai bencana, seperti gelombang panas, curah hujan ekstrem, kekeringan, berkurangnya lapisan es, dan percepatan suhu permukaan air laut.

Tidak dapat dipungkiri, fenomena perubahan iklim telah membawa pengaruh bagi dunia usaha. Pengaruh tersebut juga dirasakan dalam bisnis pembangkitan listrik.

Direktur Keuangan PLN Nusantara Power, Dwi Hartono, mengungkapkan bahwa perubahan iklim membawa tantangan dan peluang bagi perusahaan. Di satu sisi, kondisi ini mendorong pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), namun di sisi lain perubahan iklim juga menghambat produksi listrik dan operasional pembangkit.

“Perubahan iklim seperti dua sisi mata uang bagi PLN Nusantara Power. Ketika terjadi kemarau berkepanjangan, operasional PLTA terganggu karena kurangnya sumber daya air. Namun, di saat yang sama, kemarau panjang dan langit cerah meningkatkan produksi Pembangkit Listrik Tenaga Surya kami,” kata Dwi Hartono.

Sebaliknya, saat musim hujan berkepanjangan, produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) meningkat karena pasokan air yang melimpah. Namun, hujan terus-menerus dapat menghambat operasional pembangkit lain karena gangguan pasokan bahan bakar seperti batu bara dan BBM.

Dwi Hartono menceritakan dampak perubahan iklim berupa bencana kekeringan panjang di Sulawesi Selatan tahun lalu yang berimbas pada produktifitas PLTA di wilayah tersebut. Produksi PLTA 800 MW turun hingga 75 persen dan hanya mampu mengoperasikan 200 MW.

PLN NP telah mengambil langkah-langkah untuk menekan dampak perubahan iklim terhadap bisnis pembangkit listrik. Salah satunya adalah dengan menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk meningkatkan intensitas hujan di beberapa unit pembangkit. Anggaran untuk TMC ini telah dipersiapkan sejak awal tahun, sehingga tidak berdampak signifikan terhadap keuangan perusahaan.

Rencana mitigasi risiko terkait perubahan iklim lainnya juga telah dimasukkan dalam rencana kerja dan anggaran Perusahaan. Di saat yang sama PLN NP juga merencanakan pengembangan pembangkit baru yang lebih relevan dengan jaman dan lebih ramah lingkungan. Contohnya seperti PLTS Terapung Cirata dan PLTS di Ibu Kota Negara (IKN) yang saat ini sudah sinkron 10 MW dengan sistem. Investasi ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan ketahanan energi jangka panjang.

“Pengembangan pembangkit EBT juga merupakan bagian dari mitigasi pengelolaan risiko ke depan terkait keuangan. Perusahaan harus punya pembangkit baru yang akan menjadi sumber pendapatan baru saat pembangkit lain memasuki masa sunset,“ jelas Dwi Hartono.

PLN NP telah melakukan setidaknya tiga pendekatan dalam strategi manajemen risiko dan pengelolaan keuangan guna meminimalisir risiko dampak perubahan iklim. Pertama, melakukan penilaian risiko lingkungan secara rutin untuk mengidentifikasi dan mengelola dampak perubahan iklim. Kedua, menyusun rencana kontinjensi untuk menghadapi bencana alam seperti banjir, badai, dan kekeringan. Dan ketiga, bekerja sama dengan pemerintah, lembaga internasional, dan sektor swasta dalam mengembangkan proyek mitigasi perubahan iklim.

PLN NP terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam menekan dampak negatif perubahan iklim melalui investasi dalam energi terbarukan, transparansi, dan laporan keberlanjutan.

Cek juga

“Is Hydrogen The Future?”: Prospek dan Tantangan Penggunaan Hidrogen Sebagai Bahan Bakar Masa Depan.

Oleh : Iwan Niswanto, Analis Kebijakan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Penerapan energi bersih saat ini …